Guru dan pegawai MTsN 1 Sleman mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Senin (29/6/2026) di ruang pertemuan madrasah. Kegiatan ini menghadirkan Septy Andari Putri, S.Pd., M.Pd., Kepala MTsN 3 Kulon Progo, Tim Pengembang Kurikulum Madrasah Kementerian Agama RI, sekaligus penyusun Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Workshop menjadi bagian dari penguatan kompetensi pendidik dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter dan hubungan yang lebih humanis antara guru dengan murid.
Dalam pemaparannya, Septy Andari Putri menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka. KBC menjadi ruh atau landasan nilai yang memperkuat pelaksanaan kurikulum yang sudah berjalan. Melalui pendekatan ini, setiap kegiatan belajar diarahkan untuk menanamkan lima nilai utama Panca Cinta, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta diri dan sesama manusia, cinta lingkungan, serta cinta tanah air.

Peserta juga diajak memahami cara mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam perangkat pembelajaran. Narasumber memperlihatkan contoh RPPM atau modul ajar yang menghubungkan capaian pembelajaran dengan nilai Panca Cinta sehingga tujuan akademik dan pembentukan karakter dapat berjalan seiring. Guru didorong memulai pembelajaran dengan asesmen formatif, membangun komunikasi yang lebih dekat dengan murid, serta menghadirkan aktivitas belajar yang memberi ruang refleksi dan kepedulian. Di sela-sela penyampaian materi, suasana workshop semakin hidup melalui permainan sederhana yang diselingi pembagian hadiah berupa buku kepada peserta.
Melalui workshop ini, guru memperoleh gambaran bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari ketuntasan materi, tetapi juga dari tumbuhnya sikap serta karakter murid. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan di madrasah yang menempatkan ilmu pengetahuan, akhlak, dan kepedulian sosial sebagai satu kesatuan dalam proses belajar.
MTsN 1 Sleman berharap hasil workshop ini dapat diterapkan secara bertahap dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran di setiap mata pelajaran. Dengan pemahaman yang sama mengenai Kurikulum Berbasis Cinta, guru memiliki bekal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, menghargai setiap murid, dan tetap selaras dengan arah pengembangan Kurikulum Merdeka di madrasah.

